Antasena
kutipan dari
Wikipedia
Anantasena, atau sering disingkat
Antasena adalah nama salah satu tokoh pewayangan yang tidak terdapat dalam naskah
Mahabharata, karena merupakan asli ciptaan para pujangga
Jawa. Tokoh ini dikenal sebagai putra bungsu
Bimasena, serta saudara lain ibu dari
Antareja dan
Gatutkaca.
Dalam pewayangan klasik versi
Surakarta, Antasena merupakan nama lain dari
Antareja, yaitu putra sulung Bimasena. Sementara menurut versi
Yogyakarta, Antasena dan Antareja adalah dua orang tokoh yang berbeda.
Akan tetapi dalam pewayangan zaman sekarang, para
dalang Surakarta sudah biasa memisahkan tokoh Antasena dengan Antareja, sebagaimana yang dilakukan oleh para dalang Yogyakarta.
Antasena adalah putra bungsu
Bimasena dari ibu Dewi Urangayu putri Batara Mintuna dibesarkan dalam naungan ibu dan kakeknya. Setelah dewasa ia berangkat menuju
Kerajaan Amarta untuk menemui ayah kandungnya. Namun saat itu Bima dan saudara-saudaranya sedang disekap oleh sekutu
Korawa yang bernama Ganggatrimuka raja Dasarsamodra.
Antasena berhasil menemukan para Pandawa dalam keadaan mati karena disekap di dalam penjara besi yang ditenggelamkan di laut. Dengan menggunakan Cupu Madusena pusaka pemberian kakeknya, Antasena berhasil menghidupkan mereka kembali. Ia juga berhasil menewaskan Ganggatrimuka. Antasena kemudian menikahi sepupunya yang bernama Janakawati putri
Arjuna.
Antasena digambarkan berwatak polos dan lugu, namun teguh dalam pendirian. Dalam berbicara dengan siapa pun, ia selalu menggunakan
bahasa ngoko sehingga seolah-olah tidak mengenal tata krama. Namun hal ini justru menunjukkan kejujurannya di mana ia memang tidak suka dengan basa-basi duniawi.
Dalam hal kesaktian, Antasena dikisahkan sebagai putra Bima yang paling sakti. Ia mampu terbang, amblas ke dalam bumi, serta menyelam di air. Kulitnya terlindung oleh sisik udang yang membuatnya kebal terhadap segala jenis senjata.
Antasena dikisahkan meninggal secara
moksa bersama sepupunya, yaitu
Wisanggeni putra
Arjuna. Keduanya meninggal sebagai tumbal kemenangan para
Pandawa menjelang meletusnya perang
Baratayuda.
Ketika itu Wisanggeni dan Antasena menghadap
Sanghyang Wenang, leluhur para
dewa untuk meminta restu atas kemenangan Pandawa dalam menghadapi Korawa. Sanghyang Wenang menyatakan bahwa jika keduanya ikut berperang justru akan membuat pihak Pandawa kalah. Wisanggeni dan Antasena pun memutuskan untuk tidak kembali ke dunia. Keduanya kemudian menyusut sedikit-demi sedikit dan akhirnya musnah sama sekali di kahyangan Sanghyang Wenang.
Download Antasena dalam format vector :
Download vector